Entrepreneur Not Only Born But Also Made


Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata entrepreneur. Dalam Bahasa Indonesia, pada awalnya dikenal istilah wiraswasta yang mempunyai arti berdiri di atas kekuatan sendiri. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi wirausaha, dan entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan (Kamus Manajemen–LPPM). Wirausaha mempunyai arti seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha.

Definisi lain tentang wirausaha disampaikan oleh Say, yang menyatakan bahwa seorang wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, organisasi dan pengawasan. Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan.

Keputusan seseorang untuk terjun dan memilih profesi sebagai seorang wirausaha didorong oleh beberapa kondisi. Kondisi-kondisi yang mendorong tersebut adalah : (1) orang tersebut lahir dan atau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi yang kuat di bidang usaha (Confidence Modalities), (2) orang tersebut berada dalam kondisi yang menekan, sehingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain menjadi wirausaha (Tension Modalities), dan (3) seseorang yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan (Emotion Modalities).

Dari kondisi-kondisi yang mendorong seseorang menjadi wirausaha tersebut dapat disimpulkan bahwa pengusaha tidak hanya dilahirkan tapi juga bisa diciptakan, dengan alasan apapun yang melatarbelakangi. Dan hal tersebut semakin diperkuat dengan fakta-fakta yang ada, yaitu data pencari kerja Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 208.384 orang. Sementara penempatannya hanya sebesar 9.338 orang atau 4,48 % (BKD Jateng, 2005). Jumlah pencari kerja Indonesia tahun 2006 sebesar 12,6 juta orang, sementara penempatannya sebesar 275.000 orang atau 0,10 % (berbagai sumber media cetak, 2006). Kenyataan tersebut diperparah dengan fakta bahwa suatu negara dikatakan makmur jika 2 % dari penduduknya adalah pengusaha. Sementara faktanya di Indonesia hanya 0, 18 % (Somawiharja, Tempo, 2006). Bahkan tidak sampai 1 %. Fakta-fakta ini semakin menunjukkan bahwa negara kita harus mencetak pengusaha baru secepatnya agar kekosongan tersebut segera penuh terisi.

Padahal untuk melakukan PR besar itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. Belum lagi ditambah ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.

Berdasarkan kondisi dan fakta-fakta yang ada, sangat dibutuhkan sebuah lembaga yang memfokuskan pengembangan jiwa kewirausahaan pada anak dan remaja. Karena anak dan remajalah yang akan menjadi aset bangsa dalam beberapa tahun kedepan. Sangat disayangkan bila potensi yang sedemikian besar tidak diarahkan dengan baik. Namun sayangnya, hanya sedikit lembaga yang mau fokus pada masalah tersebut. Di Semarang hanya ada sebuah lembaga nonformal yang fokus pada masalah tersebut, yaitu Bizz 4 Kids (baca: bizz for kids). Bizz 4 Kids memiliki tujuan mengenalkan dunia wirausaha pada anak usia sekolah mulai 6 sampai 17 tahun, yang berfokus pada pengembangan jiwa wirausaha pada anak dan remaja yang berbasis spiritual, kreativitas, emosional, dan inteligensi. Selain itu juga memiliki visi "Education For Indonesia", yaitu pendidikan untuk menjadi bangsa yang mandiri dengan kekuatan bisnis dan investasi anak negeri sendiri. Dengan visi tersebut Bizz 4 Kids mengenalkan dunia wirausaha dengan memberikan pelatihan kewirausahaan ke sekolah-sekolah yang ada di Semarang, , Ungaran, dan Jakarta.

Respon yang didapat setelah mengikuti pelatihan tersebut sangat luar biasa. Siswa usia Sekolah Dasar mampu merumuskan impian mereka secara visual, dan mampu mempresentasikan dengan percaya diri apa yang mereka cita-citakan di waktu yang akan datang. Bahkan setelah diberikan pelatihan lanjutan, mereka sudah bisa membedakan mana barang yang termasuk harta produktif dan mana yang termasuk harta konsumtif. Hal ini terbukti setelah siswa kunjungan ke pasar modern dan pasar tradisional. Ketika ditunjukkan beberapa contoh produk yang ada di pasar, siswa sudah bisa menjawab mana yang harta produktif, dan mana yang harta konsumtif. Bila hal-hal seperti ini sudah ditanamkan pada anak sejak dini, maka bisa diprediksikan karakter wirausaha handal akan terbentuk setelah anak dewasa nantinya.

Lima sampai sepuluh tahun yang lalu, pengusaha yang ada sebagian besar berusia diatas 30 tahun. Sekarang sudah banyak pengusaha yang berusia dibawah 25 tahun. Bukan tidak mungkin setelah dilakukan pendidikan kewirausahaan pada anak dan remaja sejak dini, dalam waktu lima sampai sepuluh tahun lagi akan muncul pengusaha muda baru dibawah usia 20 tahun.

Oleh: Katri Septiana Dewi

No comments:

Post a Comment

Instagram